Dalam kehidupan kita sehari-hari terselimuti oleh berbagai masalah dalam aktivitasnya dan masalah tersebut tentu harus dicarikan solusinya, namun solusi atas masalah tersebut tidak serta-merta datang dengan sendirinya namun menggunakan ilmu pengetahuan dan pengetahuan itu salah satunya didapat dengan cara menempuh jenjang pendidikan tertentu.
Pendidikan yang sempurna ialah membangkitkan sifat-sifat diri kita sendiri yang terbaik karena pendidikan intelek yang sejati, hanya dapat dicapai dengan latihan dan pendidikan yang wajar berkenaan dengan anggota-anggota tubuh manusia, misalnya : tangan, kaki, mata, telinga, hidung, dan sebagainya.
Yang saya maksudkan dengan pendidikan ialah menampilkan sifat-sifat terbaik secara menyeluruh yang ada dalam kepribadian seorang manusia namun apabila ada seseorang yang masih menempuh ilmu atau jenjang pendidikan maka orang tersebut tentu mempunyai pengetahuan yang kurang atau bisa dikatakan bodoh dan hal itu lumrah.
Salah seorang dosen saya pernah berkata bahwa setiap orang mempunyai kekurangan makanya ia bertanya akan apa yang tak diketahuinya namun penghormatan kita pada orang tersebut tidaklah boleh berkurang apalagi sampai mencemohnya karena kita harus sadari pula bahwa bisa jadi orang tersebut mempunyai suatu kelebihan hanya saja kita tidak tahu ataupun belum mengetahui apa kelebihan dari orang yang kita cemoh tersebut.
Pernyataan dari seorang dosen tersebut sangatlah bijak yang walaupun dosen tersebut merupakan salah seorang pejabat negara pada salah satu kota yang ada di Jawa Tengah dengan gaji yang lebih dari cukup dan jenjang pendidikan Doktor namun penghargaannya pada mahasiswanya tidak berkurang sebagaimana ia memperlakukan manusia lainnya dalam aktivitas kesehariannya.
Karena dalam proses pendidikan seperti didalam ruang kelas dan kemudian ada seseorang yang bertanya karena ketidaktahuannya maka hal itu merupakan hal yang lumrah, apalagi sebenarnya apa yang ditanyakan tersebut ingin ditanyakan oleh kawan-kawan lainnya namun karena kemunafikan dari kawan-kawannya yang mungkin tak bertanya ataupun tidak mau dicemoh oleh kawan-kawan lainnya karena asumsi mereka bahwa ‘yang bertanya seperti itu hanya orang bodoh’ urung ia tanyakan.
Kita harus mengakui segala keterbatasan kita namun kita tidak boleh takut untuk menanyakan sesuatu yang belum atau tidak kita mengerti walaupun mungkin akan dicemoh orang manusia-manusia munafik yang ada di sekeliling kita.
Sesungguhnya sifat munafik itu tidaklah baik dan lebih buruk dari asumsi ‘hanya orang bodoh yang bertanya seperti itu’ karena bertanya akan apa yang tak kita ketahui adala bagian dari upaya pencarian ilmu.
Dengan tegas saya pribadi nyatakan bahwa saya tidak memusuhi orang yang mengatakan orang lain bodoh karena setiap manusia berhak untuk menyatakan pendapatnya tetapi dalam menyampaikan pendapat atau pernyataan sebisanya untuk menunjukkan kearifan yang tepat sehingga orang lain juga akan berusaha untuk menghormati kita.
Akhir kata dari tulisan singkat ini bahwa semoga kita lebih bijak dan arif dalam menyikapi segala hal.
‘LEBIH BIJAK DAN ARIF DALAM MENYIKAPI MASALAH’
Antara tubuh dan budi terdapat hubungan yang sangat erat, dan jika salah satunya terganggu maka keseluruhan sistemnya akan rusak. Karena itu, jelaslah bahwa akhlak yang mulia merupakan syarat bagi kesehatan dalam arti yang sebenarnya. Maka, dapatlah ditegaskan bahwa pikiran dan nafsu jahat merupakan berbagai bentuk penyakit.
Segala nafsu dan kegairahan lainnya hanya akan dapat dikendalikan bila kita berhasil mengendalikan selera kita, saya sungguh berhasrat, bahkan berhajat untuk membuktikan bahwa saya tidak boleh menulis secara congkak. Saya tidak boleh menulis semata-mata dengan maksud membangkitkan nafsu apalagi terdorong untuk menggunakan ungkapan-ungkapan yang terdorong oleh kemarahan untuk menggunkan kata-kata yang kejam. Sungguh suatu cobaan yang berat sekaligus suatu latihan yang bagus untuk menghapuskan dan mengganti perkataan-perkataan itu sekaligus memungkinkan saya untuk mawas diri sehingga saya menyadari beraneka kelemahan sendiri.
Kemudian, apabila ini dapat disetujui secara bersama maka barulah kearifan itu timbul dengan sendirinya.
Dari pengalaman yang pahit, saya telah memperoleh pelajaran yang sangat mulia, yaitu untuk mengendalikan rasa amarah saya, dan bagaimana panas hati yang terpendam akan beralih menjadi kekuatan.
Kita tidak patut mengorek-ngorek kesalahan orang lain lalu