Senin, 28 Maret 2011

Waktu Itu...


Waktu itu…
Sejuk embun pagi merembes ke ubun-ubun, teteskan air kedamaian, berikan kasih sayang, ketenangan, dan kebahagiaan kepada orang iman. Matahari terbit di ufuk timur, terangi afak yang tak henti-henti berpikir, membaca zikir yang menggetarkan.
Wolio menyimpan cerita, Bau-Bau bersaksi, tepatnya hari kamis, 21 april 1980. Engkau memulai mengukir hidup, melukis kisah, merendah sejarah, menyulam hikayat, dan menyusun riwayat.
Waktu itu…
Alam kepakkan sayap takdir, langit diam seribu bahasa, bumi berdiri meniti merenung seperti gunung menerima gurat dari Yang Maha Agung. Dunia menyimpan kodrat illahi Rabbi, iradat bersatu pada lahirnya insan suci. Putih bersih, bening, hening, bersatu pada tangis yang disambut suka cita Ayah dan Ibu. Telapak tangan Ayah dan Ibu, bergantian mengelusmu, keluarkan bahasa sayang yang teramat sangat, “ Mamnun Laidu” engkau diberi nama.
Sekarang…
Detik pergi, menit meniti, jam berjalan, bulan berganti, tahun beruyun-uyun. Tak terasa,     30 tahun sudah telah berlalu, engkau hidup di dunia ini, menjalankan arti hidup dan kehidupan. Mari sibakkan hati, telah sampai dimana perjalananmu? Lebih mendekat kepada-Nya atau tambah menjauh? Mari, kita pasrahkan pada ikhtiar dan do’a.
Hari ini…
Angin lembut berhembus, menggoyangkan ranting pepohonan, melambai, membangunkan sanubari yang suci. Indahnya mengikat hati, menuntun hatiku memberikan kata “Selamat Ulang Tahun” untukmu. Dengarkan do’aku yang ditulis dilembaran hati dan dibacakan di sepanjang harapan. Tuh di sana, di ujung sepi, pada tetes air wudhu dan sajadah kasih sayang, waktu sendiri merambah tanah hitam asal kehidupan kita semua.
Dengarkan oleh hatimu yang tulus, Amin.

Rimba Petaka

Kita dulu memang mencintai Indonesia
pendahulu kita berjuang dengan gagah berani
yang merelakan harta dan nyawa untuk meraih kata’merdeka’
namun apa yang kita buat kini pada negri?

lalu muncullah sekumpulan orang itu,
yang mula-mula sembunyi di balik toleransi antar ummat
tanpa ragu memegang senjata tuk berbuat jahat
dan menghujamkannya ditubuh saudara sendiri

kita tidak sedang membangun surga dengan rimba
lalu ada buah-buahan yang menyelamatkan
dan mengirimkan kita ke bumi yang kosong
dan kita mulai bisa menggarap hidup

rupanya kita menimbun diri sendiri di rimbun
suara-suara yang hutan itu—yang kuat


‘HANYA ORANG BODOH YANG BERTANYA SEPERTI ITU’


Dalam kehidupan kita sehari-hari terselimuti oleh berbagai masalah dalam aktivitasnya dan masalah tersebut tentu harus dicarikan solusinya, namun solusi atas masalah tersebut tidak serta-merta datang dengan sendirinya namun menggunakan ilmu pengetahuan dan pengetahuan itu salah satunya didapat dengan cara menempuh jenjang pendidikan tertentu.
Pendidikan yang sempurna ialah membangkitkan sifat-sifat diri kita sendiri yang terbaik karena pendidikan intelek yang sejati, hanya dapat dicapai dengan latihan dan pendidikan yang wajar berkenaan dengan anggota-anggota tubuh manusia, misalnya : tangan, kaki, mata, telinga, hidung, dan sebagainya.
Yang saya maksudkan dengan pendidikan ialah menampilkan sifat-sifat terbaik secara menyeluruh yang ada dalam kepribadian seorang manusia namun apabila ada seseorang yang masih menempuh ilmu atau jenjang pendidikan maka orang tersebut tentu mempunyai pengetahuan yang kurang atau bisa dikatakan bodoh dan hal itu lumrah.
Salah seorang dosen saya pernah berkata bahwa setiap orang mempunyai kekurangan makanya ia bertanya akan apa yang tak diketahuinya namun penghormatan kita pada orang tersebut tidaklah boleh berkurang apalagi sampai mencemohnya karena kita harus sadari pula bahwa bisa jadi orang tersebut mempunyai suatu kelebihan hanya saja kita tidak tahu ataupun belum mengetahui apa kelebihan dari orang yang kita cemoh tersebut.
Pernyataan dari seorang dosen tersebut sangatlah bijak yang walaupun dosen tersebut merupakan salah seorang pejabat negara pada salah satu kota yang ada di Jawa Tengah dengan gaji yang lebih dari cukup dan jenjang pendidikan Doktor namun penghargaannya pada mahasiswanya tidak berkurang sebagaimana ia memperlakukan manusia lainnya dalam aktivitas kesehariannya.
Karena dalam proses pendidikan seperti didalam ruang kelas dan kemudian ada seseorang yang bertanya karena ketidaktahuannya maka hal itu merupakan hal yang lumrah, apalagi sebenarnya apa yang ditanyakan tersebut ingin ditanyakan oleh kawan-kawan lainnya namun karena kemunafikan dari kawan-kawannya yang mungkin tak bertanya ataupun tidak mau dicemoh oleh kawan-kawan lainnya karena asumsi mereka bahwa ‘yang bertanya seperti itu hanya orang bodoh’ urung ia tanyakan.
Kita harus mengakui segala keterbatasan kita namun kita tidak boleh takut untuk menanyakan sesuatu yang belum atau tidak kita mengerti walaupun mungkin akan dicemoh orang manusia-manusia munafik yang ada di sekeliling kita.
Sesungguhnya sifat munafik itu tidaklah baik dan lebih buruk dari asumsi ‘hanya orang bodoh yang bertanya seperti itu’ karena bertanya akan apa yang tak kita ketahui adala bagian dari upaya pencarian ilmu.
Dengan tegas saya pribadi nyatakan bahwa saya tidak memusuhi orang yang mengatakan orang lain bodoh karena setiap manusia berhak untuk menyatakan pendapatnya tetapi dalam menyampaikan pendapat atau pernyataan sebisanya untuk menunjukkan kearifan yang tepat sehingga orang lain juga akan berusaha untuk menghormati kita.
Akhir kata dari tulisan singkat ini bahwa semoga kita lebih bijak dan arif dalam menyikapi segala hal.





‘LEBIH BIJAK DAN ARIF DALAM MENYIKAPI MASALAH’

Antara tubuh dan budi terdapat hubungan yang sangat erat, dan jika salah satunya terganggu maka keseluruhan sistemnya akan rusak. Karena itu, jelaslah bahwa akhlak yang mulia merupakan syarat bagi kesehatan dalam arti yang sebenarnya. Maka, dapatlah ditegaskan bahwa pikiran dan nafsu jahat merupakan berbagai bentuk penyakit.
Segala nafsu dan kegairahan lainnya hanya akan dapat dikendalikan bila kita berhasil mengendalikan selera kita, saya sungguh berhasrat, bahkan berhajat untuk membuktikan bahwa saya tidak boleh menulis secara congkak. Saya tidak boleh menulis semata-mata dengan maksud membangkitkan nafsu apalagi terdorong untuk menggunakan ungkapan-ungkapan yang terdorong oleh kemarahan untuk menggunkan kata-kata yang kejam. Sungguh suatu cobaan yang berat sekaligus suatu latihan yang bagus untuk menghapuskan dan mengganti perkataan-perkataan itu sekaligus memungkinkan saya untuk mawas diri sehingga saya menyadari beraneka kelemahan sendiri.
Kemudian, apabila ini dapat disetujui secara bersama maka barulah kearifan itu timbul dengan sendirinya.

Dari pengalaman yang pahit, saya telah memperoleh pelajaran yang sangat mulia, yaitu untuk mengendalikan rasa amarah saya, dan bagaimana panas hati yang terpendam akan beralih menjadi kekuatan.
Kita tidak patut mengorek-ngorek kesalahan orang lain lalu