Waktu itu…
Sejuk embun pagi merembes ke ubun-ubun, teteskan air kedamaian, berikan kasih sayang, ketenangan, dan kebahagiaan kepada orang iman. Matahari terbit di ufuk timur, terangi afak yang tak henti-henti berpikir, membaca zikir yang menggetarkan.
Wolio menyimpan cerita, Bau-Bau bersaksi, tepatnya hari kamis, 21 april 1980. Engkau memulai mengukir hidup, melukis kisah, merendah sejarah, menyulam hikayat, dan menyusun riwayat.
Waktu itu…
Alam kepakkan sayap takdir, langit diam seribu bahasa, bumi berdiri meniti merenung seperti gunung menerima gurat dari Yang Maha Agung. Dunia menyimpan kodrat illahi Rabbi, iradat bersatu pada lahirnya insan suci. Putih bersih, bening, hening, bersatu pada tangis yang disambut suka cita Ayah dan Ibu. Telapak tangan Ayah dan Ibu, bergantian mengelusmu, keluarkan bahasa sayang yang teramat sangat, “ Mamnun Laidu” engkau diberi nama.
Sekarang…
Detik pergi, menit meniti, jam berjalan, bulan berganti, tahun beruyun-uyun. Tak terasa, 30 tahun sudah telah berlalu, engkau hidup di dunia ini, menjalankan arti hidup dan kehidupan. Mari sibakkan hati, telah sampai dimana perjalananmu? Lebih mendekat kepada-Nya atau tambah menjauh? Mari, kita pasrahkan pada ikhtiar dan do’a.
Hari ini…
Angin lembut berhembus, menggoyangkan ranting pepohonan, melambai, membangunkan sanubari yang suci. Indahnya mengikat hati, menuntun hatiku memberikan kata “Selamat Ulang Tahun” untukmu. Dengarkan do’aku yang ditulis dilembaran hati dan dibacakan di sepanjang harapan. Tuh di sana, di ujung sepi, pada tetes air wudhu dan sajadah kasih sayang, waktu sendiri merambah tanah hitam asal kehidupan kita semua.
Dengarkan oleh hatimu yang tulus, Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar